Friday, March 4, 2016

Patah hati dapat memicu kerusakan jantung



Patah hati karena putus cinta atau dikecewakan merupakan hal umum yang terjadi dalam kisah cinta. Selain mempengaruhi emosi orang yang mengalaminya, patah hati ternyata juga dapat menyebabkan kerusakan pada jantung.

Kesimpulan ini dibenarkan oleh pakar jantung atau kardiolog dan malah terkadang dapat memicu kematian, meski kasusnya jarang terjadi. Selain itu juga pasangan atau suami/isteri yang kehilangan belahan hatinya lebih beresiko meninggal akibat serangan jantung beberapa hari, minggu atau bulan setelah ditinggal mati pasangannya. Diduga salah satu penyebabnya adalah adanya hubungan antara dampak dari hormon stress pada detak jantung, tekanan darah dan pembekuan darah.

Namun pakar sekarang menduga setidaknya beberapa dari kasus kematian yang terkait dengan kadar emosi tinggi bisa jadi merupakan kasus gangguan jantung berbeda yang baru dikenali di Australia sekitar 10 tahun.

Sindrom patah hati atau cardiomiopati stress terjadi ketika terjadi lonjakan adrenalin dari hormon stress memicu terjadinya peradangan di bagian jantung. Hal ini juga terjadi pada kondisi yang disebut dengan nama Takotsubo cardiomyopathy. "Kita bisa menyuntikan adrenalin ke seseorang dan memicu serangan jantung... ada banyak bukti yang menunjukkan pengaruh adrenalin dalam kondisi ini," kata Profesor John Horowitz, kepala kardiologi di Rumah Sakit Elizabeth Queen Adelaide, yang meneliti sindrom patah hati.

Diduga berlebihannya hormon stress pada dasarnya bisa menyengat jantung, tapi bagaimana persisnya kondisi ini terjadi tidak diketahui. Meski memiliki gejala yang serupa dengan kasus serangan jantung pada umumnya, kasus serangan jantung yang dipicu sindrom patah hati biasanya melibatkan penyumbatan.

Ini menjadi kondisi yang serius karena sebagian besar otot jantung untuk sementara melemah hingga ke titik tidak mampu memompa dengan benar. Berkurangnya fungsi otot jantung ini bisa berakibat fatal, menyebabkan serangan jantung (di mana sistem listrik jantung terganggu sehingga berhenti memompa). Emosi seperti kesedihan, kemarahan atau kecemasan tampaknya menjadi pemicu di hampir 28 persen kasus semacam ini.

Beberapa 'pemicu' - seperti kerusakan rumah tangga atau argumen dengan tetangga yang tampak sepele, tapi pada orang yang rentan bisa memicu sindrom tersebut.

No comments:

Post a Comment